Langsung ke konten utama

Dangdut Kata-Kata ala Putu Wijaya

Kalau kehidupan ditamsilkan sebagai lautan, maka yakinlah ombaknya tak akan pernah tuntas menggoyang perahu kita. Tiba-tiba perahu oleng ke kiri atau miring ke arah kanan. Namun tak selamanya kondisi perahu yang mabuk karena ombak itu bikin kita mual dan muak. Perahu yang digoyang ombak itu kadang menghadirkan gelak tawa dan kian menghidupkan nyawa kita.

Yang irasional tak jarang tumpang-tindih dengan wilayah rasional dalam kehidupan ini. Perilaku yang lumrah kadang hanya berbeda satu milimeter dengan kelakuan yang ganjil. Itulah pernak-pernik hidup yang senantiasa tidak berada di jalur serba lurus ini. Putu Wijaya, dalam pandangan saya, adalah sosok yang selalu mengusahakan terangkumnya rupa-rupa tanda kehidupan dalam karyanya. Kewajaran, keanehan, kegembiraan, kemurungan bisa muncul secara bergantian atau bersama-sama dalam tulisan Putu Wijaya.

Putu Wijaya menyebut karyanya sebagai teror mental. Pembaca dibuat seolah tidak aman melalui cerita yang tiba-tiba menukik kemudian secepat kilat mendatar kembali. Maka tak salah jika Ignas Kleden (2003:115) mengatakan bahwa Putu Wijaya memperlakukan pembaca sebagai orang dewasa yang harus dibangunkan dari tidur saat membaca karyanya. Putu Wijaya seolah memosisikan kita sebagai seorang korban yang telah lebam di wajahya, namun dengan heran bertanya, "kapan saya dihantam?"

Novel berjudul Nora ini diselesaikan Putu Wijaya pada 30 Januari 2004 di Indonesia. Sementara ia mulai menuliskannya ketika berada di Shugakuin, Kyoto, tahun 1992. Melihat rentang masa yang begitu panjang sejak mulai menuliskan sampai selesai lalu diterbitkanseharusnya buku ini hadir dengan minim kesalahan teknis. Faktanya, salah huruf atau kurang huruf pada kata masih sering nampak dalam buku ini.

Namun, melalui Nora, kiranya kita bisa melihat kesungguhan Putu Wijaya dalam menulis karya berbentuk tetralogi. Pada halaman depan buku ini tertera: Tetralogi Dangdut 1. Putu Wijaya tidak menjadikan karya sebagai industri yang bisa kehilangan nuansa. Penyematan rangkaian tiga kata itu bukan main-main. Artinya, Putu Wijaya telah menubuatkan bahwa Nora adalah sebuah karya yang akan saling sambung dengan beda nuansa di buku-buku berikutnya. Jadi, Putu bukan melempar sebuah karya, kemudian ketika animo pembaca terlihat pesat, barulah ia menyebut karyanya sebagai tetralogi. Oleh karena itu, laiklah jika publik patut menyambut Tetralogi Dangdut Putu Wijaya ini dengan semacam garansi tidak bakal kecewa.

Judul Buku : Nora; Tetralogi Dangdut 1Penulis : Putu WijayaPenerbit : Penerbit Buku KompasTahun Terbit : I, November 2007Tebal Buku : vii, 304 halamanISBN : 978-979-709-336-5Harga : Rp. 49.000,00

Pembaca novel ini haruslah siap untuk--pinjam kata dalam bahasa Madura--caremet dengan ulah tiap tokoh didalamnya. Putu berhasil menggoyang pembaca dengan kisah yang berikhwal sepele namun menggemaskan.

Hanya karena tak sengaja melihat Mala sedang buang air kecil di halaman rumah, Nora menjadi pingsan beberapa hari dengan igauan yang aneh. Kemudian orangtua Nora memaksa Mala menikah dengan Nora. Mala tidak menolak secara langsung namun menyimpan gundah yang mendalam atas paksaan orangtua Nora tersebut. 

Berat hati Mala untuk membangun keluarga dengan Nora. Sebab ia adalah seorang redaktur sebuah media cetak ternama di ibu kota. Sementara Nora hanyalah gadis lugu yang tak terlalu cantik. Akhirnya Mala dan Nora menikah.

Gelombang lautan kehidupan bisa merubah sikap seseorang. Pelan-pelan Mala mencintai Nora secara sungguh. Namun saat itu pula, orangtua Nora meminta Mala membiayai pernikahan Nora dengan seseorang bernama Ronikeluarga jauh Nora dari kampung. Mala menolak dengan keras. Namun orangtua Nora seolah tak mengacuhkan penolakan itu.

Pembaca novel ini pasti caremet sebab susunan cerita yang dibangun oleh Putu Wijaya sungguh tidak masuk akal namun berhasil membangkitkan emosi kita.

Secara umum, novel ini menghadirkan sebuah dunia dengan tingkat komunikasi yang minim. Dunia yang hanya diisi dengan prasangka. Hingga persahabatan, kehidupan kantor sampai percintaan bisa luluh-lantak dalam sekejap. Putu tidak bercerita tentang dunia kenyataan dalam novel ini. Ia justru mengusahakan terbangunnya sebuah dunia dengan sumber kisah-kisah dari dunia nyata.
Namun, selaiknya dongeng, kehidupan dalam buku ini membuat kita bisa percaya bahwa benar-benar terjadi di lingkungan keseharian Putu atau kita sendiri. Satu hal lain yang membuat kita wajib membaca buku ini; Putu Wijaya tetap konsisten menaburkan aforisma dalam halaman-halamannya. Kadang aforisma itu muncul dalam kemarahan, keakraban bahkan kegetiran. “Bukan kemerdekaan, tapi tanggung jawablah sebenarnya yang nikmat dan membahagiakan.” (hal.122), kalimat bijak ini justru menyeruak sehabis pertengkaran hebat antara Mala dan Nora di stasiun.

Novel ini mampu membuat kita sadar bahwa dibalik tiap kejadian dalam hidup ini ada pihak yang berperan sebagai dalang. Dengan lihai, Putu tidak memberi tahu dalang pada tiap adegan dalam novel ini. Pembaca diajak aktif untuk menduga dan memperkirakan sementara Putu hanya memberi petunjuk. Inilah kiranya ciri utama dari karya Putu Wijaya; selalu bersifat terbuka dan belum selesai penuh.

Akhirnya, siapkanlah diri untuk tiba-tiba tertawa, meringis atau bahkan menangis saat membaca novel Nora ini. Ya, Putu mampu menghadirkan gambaran kehidupan yang serba tiba-tiba dalam novel ini. Bagai irama musik dangdut yang tiba-tiba mengajak kita bergoyang dengan henti yang bisa kapan saja; terserah kita.(*)

(Tayang di Kolom Bedah Pustaka Harian Media Indonesia, 12 Januari 2008)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naskah 'Yang Lain' dari Pidi Baiq

Judul Buku : Drunken Monster; Catatan Harian Pidi Baiq Penulis : H. Pidi Baiq Kata Pengantar : Prof. Bambang Sugiharto Penerbit : DAR! Mizan, Bandung Tahun Terbit : I, Januari 2008 Tebal Buku : 204 Halaman Nomor ISBN : 978-979-752-832-4 Harga : Rp. 29.000,00 Saya sengaja memberi tanda kutip pada gabungan kata yang dan lain dalam judul diatas. Tanda kutip itu menunjuk kepada (setidaknya) dua makna. Penulis buku iniyang juga dikenal sebagai akademikus, komikus dan musikus bercerita bahwa ia ditanya oleh Doel Wahab (editor Penerbit Mizan) soal naskah buku berjudul Ayat-Ayat Sompral yang sedang dikerjakannya. Naskah itu ternyata belum selesai. "Maka," ungkap Pidi Baiq, "saya tawarkan kepada Bang Doel, bagaimana untuk sementara naskah saya yang lain dulu saja yang diterbitkan?”(hal.15). Jadi, buku Drunken Monster bukanlah naskah yang sedari mula telah dinubuatkan untuk diterbitkan oleh Pidi Baiq. Sebabnya yaitu, Drunken Monster merupakan kumpula...

Ped

USAI mengantarkan pepaya sebanyak satu truk ke pasar, Mat Sodik bertemu dengan Mat Rifah. Ajakan Mat Rifah untuk singgah sebentar di warung tak ditampik oleh Mat Sodik pada sore itu. "Aku benar-benar minta tolong," ucapan Mat Rifah itu kian membuat hati Mat Sodik tak tega. Bagaimana mungkin ia tak akan membantu teman sepermainan yang ia kenal mulai umur lima tahun. Mereka berpisah karena Mat Rifah memutuskan untuk merantau, menimba ilmu di tanah seberang.

Mengembalikan Radikalisme ke Rumah Bahasa

Radikalisme sebagai bagian dari 'keluarga besar' bahasa telah pergi jauh dari rumahnya. Radikalisme telah membuat pusing, tidak hanya pejabat, namun juga warga negara Indonesia. Warga negara makin bingung dengan munculnya frasa-frasa baru yang mengikatkan diri dengan radikalisme. Misalnya "terpapar radikalisme", "ormas radikal", dan "radikalisme agama".  Mari kita paksa radikalisme kembali ke rumah asalnya, yakni rumah bahasa, agar kita menemukan kejelasan sehingga tak melulu berputar dalam kebingungan. Rumah bagi sebuah bahasa adalah kamus yang berisi kata-kata sebagai anggota keluarga.