Langsung ke konten utama

Parodi Saldo Rekening Selebritas


Unggahan potret jemari yang memegang kertas—sepertinya amplop—berwarna coklat bertuliskan perhitungan gaji Bupati Budhi Sarwono masih ada di akun Instagram milik Kabupaten Banjarnegara sampai saat ini. Unggahan potret yang bertakarir “GAJIAN BUPATI BULAN OKTOBER 2019” viral di dunia maya sejak tanggal 2 Oktober 2019. Sesuai isi potret, terlihat jumlah penerimaan bersih Bupati Budhi Sarwono sebesar Rp 5.961.200,-.



Tujuan Bupati Budhi melakukan tindakan tersebut, seperti dilansir Detikcom (3/10/2019), agar Presiden Joko Widodo mengetahui bahwa jumlah gaji bupati masih lebih rendah ketimbang gaji anggota legislatif kabupaten. Walakin, menurut Detikcom (7/10/2019), kekayaan Bupati Budhi mencapai Rp 19,1 miliar berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Maret 2019. Bupati Budhi sebenarnya tak mempersoalkan jumlah gaji. Ia hanya resah dengan jumlah gaji bupati yang masih rendah nampaknya bisa menjadi pemicu tindak pidana korupsi.

Sementara itu, pada ruang yang berbeda namun masih di dalam dunia maya, Uya Kuya melakukan ‘terobosan tantangan’ ketika menjadikan Barbie Kumalasari sebagai tamu di konten akun Youtube miliknya. Tantangan berupa periksa langsung isi rekening melalui mesin ATM. Jumlah isi rekening dari dua kartu ATM milik Barbie Kumalasari mencapai Rp 3,1 miliar. Terobosan tantangan dari Uya Kuya menyebar laiknya virus ke artis-artis lain. Terlepas dari kondisi masyarakat dunia maya yang terbelah dalam menyikapi terobosan tantangan dari Uya Kuya, sebenarnya ada unsur parodi dalam tindakan pamer isi rekening.

Terobosan tantangan dari Uya Kuya kian menabalkan telanjangnya kebudayaan di dunia maya. Tantangan pamer isi rekening merupakan parodi terhadap citra kaya di dunia maya yang diwakilkan dengan potret rumah, kendaraan, dan aset fisik lainnya yang lazim kita lihat sebagai menu unggahan harian warga kebudayaan dunia maya melalui akun media sosial. Namun, jika yang diperlihatkan kepada publik adalah isi rekening melalui tampilan di layar mesin ATM, maka perilaku itu sudah melampaui anggapan kaya melalui citra. Berapa banyak warga kebudayaan dunia maya yang sanggup memperlihatkan isi rekeningnya melalui mesin ATM dengan pola yang ditawarkan Uya Kuya? Sedikit. Ya, semakin banyak orang yang mengikuti tantangan pamer isi rekening via mesin ATM tentu saja akan membatalkan unsur parodi dari tindakan itu.

Tantangan pamer isi rekening via mesin ATM juga merupakan parodi terhadap kewajiban pejabat negara melaporkan harta kekayaan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Warga kebudayaan dunia maya galibnya hanya bisa melihat daftar aset milik pejabat negara melalui daftar LHKPN. Nah, kalau saja ada pejabat negara yang sanggup mengikuti tindakan Barbie Kumalasari; mengajak kumpulan wartawan ke mesin ATM terdekat kemudian menunjukkan isi rekening semua kartu ATM yang ada di dompetnya, mungkin kondisi politik Indonesia kian adun temadun. Pastinya, warga kebudayaan dunia maya tidak perlu menunggu waktu lama untuk melihat sebagian aset milik pejabat negara yang menjadi bahan penyusunan LHKPN.

Sayang sekali, akun Instagram Kabupaten Banjarnegara hanya memamerkan slip gaji bulanan bupatinya. Padahal jika akun tersebut mengunggah potret buku rekening bank terbaru milik Bupati Banjarnegara, mungkin angka yang menjadi perbincangan utama bukanlah Rp 5.961.200,-. Bisa lebih atau malah kurang dari angka tersebut. Pastinya, tindakan itu juga akan viral dan bisa menginspirasi daerah lain di Indonesia.

Kebudayaan dunia maya menjadikan parodi tak lagi hanya termaktub di buku-buku cerita atau gelaran seni berupa drama. Tindakan-tindakan warga kebudayaan dunia maya saling memparodikan satu dengan lainnya. Sebelum timbul parodi berbentuk pamer isi rekening via mesin ATM, produk kebudayaan dunia maya juga pernah menghasilkan meme terkait ATM. Misal potret dari layar mesin ATM dengan tulisan:
Saldo Anda Rp 0,-
Apakah Anda Ingin Menangis?

Kebanyakan meme terkait ATM yang viral di dunia maya memang lebih dekat kepada makna betapa kemiskinan masih bisa membuat seseorang tertawa. Bahkan perlawanan terhadap konotasi negatif dalam kata kemiskinan juga menghasilkan suatu parodi dengan melazimkan penyebutan ‘missqueen’. Seolah penggantian ‘miskin’ dengan ‘missqueen’ merupakan salah satu terapi menenangkan diri dari kondisi keuangan yang di bawah pas-pasan.

Parodi di dalam kebudayaan kontemporer, menurut Georges Bataille (dalam Piliang, 2004:391), tidak selalu terkait dua pihak, namun satu pihak bisa memparodikan dirinya sendiri. Artis memparodikan sesama artis, sebagaimana kita lihat dalam terobosan tantangan Uya Kuya. Pejabat negara memparodikan pejabat negara lainnya, sebagaimana nampak dalam unggahan gaji Bupati Banjarnegara bulan Oktober 2019.

Parodi yang muncul sebagai produk kebudayaan dunia maya memang akan seperti gelegar suara petir yang cepat sirna. Maka, untuk sobat ‘missqueen’ dalam menanggapi unggahan potret gaji Bupati Banjarnegara yang viral dan terkuaknya isi rekening dari dua kartu ATM milik Barbie Kumalasari, tak ada yang bisa dilakukan kecuali mengelus dada dan tetap dalam kesabaran yang ‘HQQ’. Tentu saja sembari menunggu dengan ‘yaqueen’ parodi-parodi lain sebagai produk kebudayaan terbaru dari warga dunia maya.

Dipublikasikan oleh Detikcom tanggal 6 Desember 2019
https://m.detik.com/news/kolom/d-4812452/parodi-saldo-rekening-selebritas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naskah 'Yang Lain' dari Pidi Baiq

Judul Buku : Drunken Monster; Catatan Harian Pidi Baiq Penulis : H. Pidi Baiq Kata Pengantar : Prof. Bambang Sugiharto Penerbit : DAR! Mizan, Bandung Tahun Terbit : I, Januari 2008 Tebal Buku : 204 Halaman Nomor ISBN : 978-979-752-832-4 Harga : Rp. 29.000,00 Saya sengaja memberi tanda kutip pada gabungan kata yang dan lain dalam judul diatas. Tanda kutip itu menunjuk kepada (setidaknya) dua makna. Penulis buku iniyang juga dikenal sebagai akademikus, komikus dan musikus bercerita bahwa ia ditanya oleh Doel Wahab (editor Penerbit Mizan) soal naskah buku berjudul Ayat-Ayat Sompral yang sedang dikerjakannya. Naskah itu ternyata belum selesai. "Maka," ungkap Pidi Baiq, "saya tawarkan kepada Bang Doel, bagaimana untuk sementara naskah saya yang lain dulu saja yang diterbitkan?”(hal.15). Jadi, buku Drunken Monster bukanlah naskah yang sedari mula telah dinubuatkan untuk diterbitkan oleh Pidi Baiq. Sebabnya yaitu, Drunken Monster merupakan kumpula...

Ped

USAI mengantarkan pepaya sebanyak satu truk ke pasar, Mat Sodik bertemu dengan Mat Rifah. Ajakan Mat Rifah untuk singgah sebentar di warung tak ditampik oleh Mat Sodik pada sore itu. "Aku benar-benar minta tolong," ucapan Mat Rifah itu kian membuat hati Mat Sodik tak tega. Bagaimana mungkin ia tak akan membantu teman sepermainan yang ia kenal mulai umur lima tahun. Mereka berpisah karena Mat Rifah memutuskan untuk merantau, menimba ilmu di tanah seberang.

Mengembalikan Radikalisme ke Rumah Bahasa

Radikalisme sebagai bagian dari 'keluarga besar' bahasa telah pergi jauh dari rumahnya. Radikalisme telah membuat pusing, tidak hanya pejabat, namun juga warga negara Indonesia. Warga negara makin bingung dengan munculnya frasa-frasa baru yang mengikatkan diri dengan radikalisme. Misalnya "terpapar radikalisme", "ormas radikal", dan "radikalisme agama".  Mari kita paksa radikalisme kembali ke rumah asalnya, yakni rumah bahasa, agar kita menemukan kejelasan sehingga tak melulu berputar dalam kebingungan. Rumah bagi sebuah bahasa adalah kamus yang berisi kata-kata sebagai anggota keluarga.